(Diambil dari www.maqdalene.net, penulis : DR. Maqdalene. Kawotjo)
Saya sering membersihkan daerah istana dapur kami, banyak barang yang dibiarkan numpuk, berdebu, dan tidak beraturan. Jadi kalau pas abis masak dan mau nyuci perangkatnya, mata saya melihat keliling dan mulai menyikat sisi magic jar yang lumutan, tetesan airnya dari tongolan yang sudah numpuk dan kalau netes baunya aujubilemak, bersihin pinggiran tempat cuci piring, menyikat juicer, membereskan tempat bumbu, ganti tatakan ini itu. Saya juga sering membongkar isi kulkas, karena saking sibuknya asisten-asisten saya sehingga mereka mungkin nggak punya sisa banyak waktu untuk menyortir. Jadi sayalah yang suka bongkar-bangkir dan mendapatkan buah yang sudah melenyék, sudah berbulu, sudah berair di dalamnya. Saya sering dapatin wortel, timun, bumbu pawon, atau seikat sayur asem mentah yang sudah kadaluwarsa. Juga banyak yang lain yang harus saya evakuasi. Antara sedih karena kami harus membuang beberapa makanan dan bahan makanan seperti itu (tidak banyak sih, karena saya khususnya sangat berhati-hati dalam mengelola uang yang Tuhan percayakan kepada kami) – di lain pihak saya juga kasihan ama mereka, karena saya nggak mau paksain mereka kerja paksa – mereka sendiri sudah sangat sibuk dengan berbagai pekerjaan, jika ditambah ngurusin yang detil seperti ini mungkin mereka bisa ‘bengkok-bengkok’.
Suatu kali waktu saya jalan ama temen deket saya, dia bilang bahwa anaknya suka minta beli roti, lalu kalau makan ayam KCF suka nggak abis dan dibuang-buang. Juga banyak makanan di rumah, kayak lauk dibuang-buang juga. Lalu sambil menghentikan langkah kami dia noleh dan mandeng muka saya serius, tanyanya: “Maq, menurutmu dosa nggak sih saya buang-buang berkat Tuhan? Dulu waktu kami kesusahan nggak gitu, tapi setelah diberkati kok gini yah….” Saya rasa dia bisa menjawab pertanyaannya sendiri, buktinya hati nuraninya sudah menuduhnya.
Emang saya liat kebiasaan orang Indonesia malu untuk bawa “doggy bag” (minta styrofoam dari restoran yang bersangkutan untuk makanan sisa yang bisa dibawa pulang). Saya jadi inget rekan pelayanan saya cowok pernah cerita gini: Ada seorang Bapak minta styrofoam dari restoran, karena ada sisa gurame dan ayam beserta seluruh tulang-tulangnya. Dia bilang untuk “doggy kami di rumah”. Lalu anaknya yang masih innocent nyaut kenceng-kenceng, “Pak, kita khan nggak punya doggy!!!” Hushhhh!!!! bapaknya marah sambil ngeloyor muka padam. Dasar ucok malu-maluin bapak’e.
Pada saat saya dan asisten-asisten mendapatkan kesempatan baik saat duduk makan, saya mengajarkan sedikit ‘perumpamaan’. Karena di atas kulkas itu ditumpuk banyak bumbu-bumbu dan kalengan dan teh, buku belanja dan entah apa lagi, saya bilang bahwa kain alas kulkas yang saya beli waktu pelayanan di Pekalongan jadi kotor. Karena nggak diperhatikan dan nggak diberi alas untuk menjaga agar debu yang tertimbun bukan numpang di kain rajut tapi di plastik atau kertas yang cantik. Jadi saya minta agar rajut itu dibongkar, di-laundry, lalu mulai ditata rapi.
Mereka ngeliat saya kayaknya dengan mimik geli. Saya tahu, mungkin maksud mereka ah, rumah imut, masih juga ngontrak, barang juga masih yang plastik-plastik dan belum yang kristal aja kok susah-susah amat pake dirapiin dan dibagus-bagusin segala. Mbok ya nunggu kalau udah punya rumah baru, rumah sendiri, rumah yang gedhe, istana, baru….. terserah elu deh.
Mereka sih nggak bilang begitu, tapi saya mau bantu cara pikir mereka yang mungkin salah dan harus berubah sesegera mungkin. Jadi saya mulai perkuliahan singkat di meja makan perlahan-lahan yang saya harap akan merubah paradigma. Saya yakin hundred persen mata kuliah ini berhubungan dengan bagaimana bisa dipercaya menangani perkara-perkara BESAR. Sambil liat mereka ngunyah sup campur dan krupuk, saya mulai buka mulut: Jika dengan membersihkan barang-barang kita yang masih sederhana seperti ini, Tuhan akan mempercayakan barang-barang yang lebih baik lagi. Tapi jika kalian dipercaya motor tapi nggak pernah diservis, nggak dicuci, nggak diurus, nggak dipanasin, mana mungkin Tuhan berpikir akan mempercayakan sebuah mobil? Yang kecil aja nggak diurus, gimana nantinya kalau dipercaya barang yang membutuhkan tanggung jawab yang lebih rumit? Demikian juga dengan pakaian, uang, keluarga, makanan, pelayanan, tubuh, anggota tubuh, kesehatan, dll.
Semua yang kecil ini berkaitan dengan yang besar di kemudian hari; dan yang kecil ini tidak pernah tidak ada kaitannya dengan penilaian Tuhan. Karena apa pun yang kita lakukan nggak pernah lolos dari pengamatan Tuhan, semua yang terjadi dalam kehidupan kita diatur oleh Tuhan – jadi yang besar itu dimulai dari yang kecil. Dan kepercayaan besar pun yang memberi adalah Dia yang melihat bahwa kita setia dan bertanggungjawab dengan yang kecil.
Ambillah contoh tadi tentang makanan, pada waktu kita nggak kelimpahan kita irit banget, tapi setelah diberkati kita kurang menghargai kepercayaan Tuhan dan membuang sisa-sisa. Menurut kalian, apa yang akan kau perbuat jika engkau jadi Tuhan? (Ya nggak bakal sih, tapi ini cuman misal… jadi yang sudah buang-buang jangan sewot kalau disuruh bayangin jadi Tuhan).
Misalnya Anda jadi Tuhan, liat anak satu ini doa nangis-nangis tiap hari minta berkat ingin kaya, akhirnya tergeraklah hatimu dan memberkatinya. Tapi saat udah diberkati, dia mulai foya-foya, nggak ada penting-pentingnya suka keluyuran buang duit ke mall terus berburu barang-barang. Maka Anda sebagai Tuhan pasti mikirin anak macem gini bakal he..he..setress (karena emang Anda bukan Tuhan beneran, jadi bisa setress) Nah, setelah melihat dia menghabiskan uang berkat yang seharusnya dipakai untuk kepentingan Kerajaan Sorga dan taat kepadamu untuk menjadi pengelola kekayaanmu, – apa boleh buat, mau tidak mau engkau harus melaksanakan apa yang “kau” firmankan sendiri, yaitu : “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:6
Ini yang saya amati pada kehidupan beberapa banyak anak Tuhan di Indonesia. Mereka selalu beli barang ber-merk demi prestige, bukan demi kebutuhan pakai. Mereka ingin menutupi dirinya dengan barang yang “kelihatannya” mewah dan dapat dipandang untuk dinilai orang lain bahwa dia “mampu”. Bahkan nggak sedikit yang secara nggak sengaja “mengelabuhi” orang dengan memakai barang tiruan. Lho, pakai barang bajakan sih mungkin sudah umum yah, tapi fokus untuk mengelabuhi itu sendiri kurang dapat dimengerti. Kalau memang mau beli karena suka modelnya sih nggak apa, tapi kalau udah ke”makan” merk, itu udah nggak wajar. Ini sih menurut saya sendiri, dan nggak ada hubungannya dengan ayat.
Akhirnya saya mengamati bahwa orang-orang yang mengeluarkan uang tanpa perhitungan, kekayaannya “ditarik” kembali ama Tuhan, dan mereka jadi miskin-kin tenan. Ada seorang ibu gembala yang hidupnya bergelimpangan kemewahan, dan waktu dicabut kembali kekayaannya, dia masih seakan hidup dengan gaya high class. Tapi khan nggak mungkin bisa bertahan lama? Jadi akhirnya, akhirnya (karena lama banget dia nyerahnya)… akhirnya, dia jual gorengan semacam pastel, lumpia dan diserahkan ke orang lain untuk dijajakan.
Ada contoh nyata lagi. Waktu saya naik mobil ama beberapa temen di daerah Ketapang, ada seorang Om Tiong Hoa membawa mangkok dan keliling di mobil-mobil yang sedang terhenti karena lampu merah. Salah satu temen yang semobil bilang begini: Wah, jangan sampai Om itu liat saya, karena dulu saya bikin cincin nikah di toko emas dia. Saya nggak enak kalau dia sampai malu, karena kami kenal baik, dulu dekat banget. Dulu dia kaya tapi suka foya-foya, dia “jajan” dan bawa penyanyi-penyanyi asal Taiwan, lalu pergi ke Hong Kong untuk dapetin cewe yang mahal-mahal. Wah, nggak nyangka kok bisa ya dia sepertinya terpuruknya fatal gitu. Khan biasanya orang Cina kalau udah ludes masih bisa bangkit lagi. Tapi ini kok bener-bener ambruk.
Banyak sih cerita lain, tapi saya rasa 2 itu aja udah mewakili bagaimana kita harus bertanggung jawab dengan perkara kecil yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan kalau udah dipercaya perkara besar, harus tetap dapat dipercaya, karena berkat itu bukan semuanya milikmu, engkau hanya numpang terberkati, tapi dalam spending your money, hendaklah selalu bertanya kepada Tuhan, mana yang harus dibelanjakan, mana yang harus dibeli dan kemana harus pergi.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Lukas 16:10
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Matius 25:23
—
Nah.. itu tadi sebuah artikel yang saya ambil atas seijin penulis. Saya sangat kagum dengan renungan-renungan yang beliau tulis, dan buku-buku serta pengajaran dari beliau, begitu radikal di dalam Tuhan, begitu kena di setiap sisi kehidupan saya, tapi kembali lagi kepada pribadi kita masing-masing, seberapa nyangkutkah firman Tuhan yang diberitakan di hati kita?
Ketika membaca artikel ini, saya merasa tertempelak dan saya bersyukur Roh Kudus mengingatkan saya akan apa yang sedang terjadi dalam hidup saya ini. Sebenarnya semua kekacauan dalam hidup saya belakangan ini karena saya sudah tidak setia lagi akan perkara kecil yang Tuhan berikan. Maunya hanya melakukan perkara besar, timbulah “kesombongan” dalam diri saya tanpa saya sadari. Sekarang saya harus mulai belajar setia dalam perkara kecil, dan hal itu ternyata tidak mudah, diperlukan hati yang benar-benar tulus, iklas, dan kerendahan hati. Satu hal saya percaya proses yang sedang saya alami ini adalah sebuah rancangan Tuhan yang indah dalam hidup saya dan Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan terhadap saya, karena Tuhan itu baik. Semoga artikel ini dapat menjadi berkat bagi para pembaca.




Recent Comments